Ol-Daol, Festival Musik Kontemporer Khas Madura

|
Festival musik Ol-Daol

Bagi masyarakat Madura, momen lebaran yang sesungguhnya adalah lebaran ketupat yang jatuh 7 hari atau seminggu pasca 1 syawal. Momen itulah yang dirayakan secara suka cita oleh hampir semua lapisan masyarakat di Madura. Mulai dari meja makan yang penuh dengan suguhan khas lebaran, liburan keluarga, hingga pesta rakyat macam konser dangdut. Dan yang paling khas dan ditunggu adalah festival musik kontemporer jalanan khas pulau di ujung timur kota Surabaya ini, Ol-Daol.

Daol Combo yang lebih akrab dengan disapa Ol-Daol, adalah musik kontemporer khas Madura yang mulai berkembang dari kota Sampang. Musik ini berawal dari kebiasaan masyarakat Madura memanfaatkan barang-barang di sekitar atau barang bekas untuk dijadikan instrumen untuk memainkan sebuah bunyi-bunyian yang membentuk sebuah nada etnik yang khas. Musik ini mulai berkembang di era 90'an dengan memadukan berbagai macam aliran musik mulai dangdut, gambus, kasidah, hingga lagu daerah. Dalam perjalanannya, musik Ol-Daol ini dijadikan sarana untuk membangunkan masyarakat untuk makan sahur di bulan ramadhan. Hingga akhirnya Ol-Daol telah mendapatkan tempatnya di hati masyarakat Madura. Terbukti dengan membludaknya masyarakat yang turun ke jalan untuk menyaksikan langsung festival tahunan ini.

Kini Festival Ol-Daol menjadi sajian rutin saat lebaran ketupat. Berbagai grup musik Ol-Daol seantero Madura menunjukkan aksinya di kota Sampang, kota tempat kelahiran musik ini. Berbagai anjungan dengan hiasan etnis khas pulau garam berjalan lirih di pusat keramaian kota Sampang. Diwarnai dengan tetabuhan gamelan, tiupan seronen, pukulan gong dan gendang, yang banyak memanfaatkan drum bekas sesuai dengan sejarah awal musik ini, dan berbagai instrumen musik daerah lain saling bersahutan dan membentuk suatu nada khas yang memikat. Tidak ketinggalan aksi dari para penyanyi dan penarinya yang kian menambah riuh malam fitri tersebut.

Fetival musik kontemporer ini hanya ada di Madura. Tepatnya di kota Sampang. Maaf kalau saya sering mengulang kata "khas" ditulisan ini. Tapi sekali lagi, inilah festival yang sangat khas Madura. Sayang festival ini jarang terekspos oleh media. Kurangnya sosialisasi dan sponsor mengakibatkan festival Ol-Daol ini berjalan ala kadarnya untuk pantas dinamakan sebuah festival atau karnaval. Masih terlalu dini untuk menjadi besar seperti Jember Fashion Carnival. Atau sangat terbelakang bila kita membandingkannya dengan festival serupa di Rio de Janeiro, Brazil, tanah sebuah fetival atau karnaval.

Tapi, bila pemda Sampang, ulama, tokoh masyarakat, pengusaha, akademisi, dan segenap elemen masyarakat di kota Sampang mau bertindak lebih untuk mem-populer-kan dan lebih membesarkan Ol-Daol, bukan tidak mungkin festival ini menjadi kalender resmi festival wajib tonton di Indonesia. Dan membalikkan semua stigma tentang Sampang dan Madura umumnya yang akhir-akhir ini tercoreng oleh isu SARA. Sebuah kebudayaan yang berasal dari sebuah kearifan lokal dapat membangun sebuah peradaban yang unik dan, sekali lagi, sangat khas.

***

serambi foto para musisi, penyanyi, dan penari Ol-Daol :







Serambi foto berbagai anjungan Ol-Daol dari seantero Madura :





Serambi foto para penonton yang membludak :



Read More......

Ada SK di Semarang

|
rambu penunjuk jalan dan coretan SK di Semarang

"SK" adalah singkatan yang paling populer beredar di kota Semarang. Khususnya bagi para pria hidung belang. SK memiliki kepanjangan Sunan Kuning yang berarti merupakan nama lokalisasi paling terkenal di kota Semarang. Sekelas Dolly di Surabaya atau Sarkem di Jogja. Saking populernya singkatan ini, banyak coretan vandal di sudut-sudut kota Semarang yang bertuliskan SK. Biasanya berdampingan dengan coretan "snex" atau "panser biru" yang berarti sebutan untuk suporter fanatik klub PSIS Semarang. Termasuk coretan vandal yang terpampang di rambu penunjuk jalan di daerah sekitar terminal Terboyo dan Kaligawe Semarang ini. Pelaku coretan iseng ini seolah berpesan kepada pemkot Semarang, "Hei jangan lewatkan SK sebagai salah satu tujuan wisata kota Semarang!".

SK atau Sunan Kuning

Read More......

Lawang Sewu, Komersialisasi Sebuah Situs Sejarah

|
halaman utama lawang sewu

Lawang Sewu, demikianlah gedung warisan kolonial ini akrab disapa warga Semarang. Dalam bahasa Indonesia lawang sewu berarti "pintu seribu", yang berarti gedung yang memiliki seribu pintu. Padahal bila ditotal seluruhnya, jumlah daun pintu di gedung ini "hanya" sekitar 700-an biji. Begitulah idiom yang berkembang di masyarakat jawa. Meng-konotasikan suatu hal yang berjumlah banyak dengan bilangan "seribu" atau "sewu". Sama hal-nya judul lagu keroncong karya penyanyi campursari asal Solo, Didi Kempot, "sewu kuto" atau "seribu kota".

Gedung yang berlokasi di sekitar wilayah tugu muda kota Semarang ini memiliki keunikan tersendiri. Selain cerita mistisnya yang terkenal, gedung ini juga mencerminkan kejayaan dan kekayaan budaya eropa dan Belanda khususnya. Selesai dirancang pada tahun 1903 oleh arsitek dari Amsterdam, Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J. Ouendag, dan diresmikan pada tahun 1908 oleh pemerintah kolonial. Bergaya arsitektur art deco warisan renaissance yang pada masa itu sedang booming di eropa dengan hiasan kaca besar berukiran dewi fortuna dalam mitologi yunani. Tak kalah material dalam membangun lawang sewu ini pun sangat wah, dengan batu granit yang langsung didatangkan dari Italia dan bata merah berlapis yang didatangkan langsung dari Venlo, Belanda. Kecuali kayu jati yang material lokal, marmer dan lantai-lantainya pun impor dari eropa.Kemegahannya seolah menyuratkan bahwa lawang sewu hanya untuk orang-orang kulit putih.

malam hari

Awalnya, lawang sewu dibangun sebagai kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Sebuah maskapai perkereta-apian pemerintah kolonial. Tak lain tak bukan guna memberdayakan semua armada kereta api di Indonesia yang pada masa itu sebagai moda transpotasi utama untuk mengangkut semua hasil bumi di tanah Jawa. Dimana selain urusan kereta api, semua angkutan hasil bumi tercatat dalam administrasi di lawang sewu ini. Intinya, gedung ini benar-benar memiliki arti komersil bagi perekonomian pemerintah kolonial. Setelah Indonesia merdeka, alih fungsi gedung dua lantai ini menjadi kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) yang kini menjadi PT Kereta Api Indonesia (PT KAI). Pada masa orde baru gedung ini pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kanwil Departemen Perhubungan Jawa Tengah. Kini, hak fungsinya kembali beralih ke PT KAI setelah kedaannya lebam layaknya korban pemerkosaan.

*****

menara utama lawang sewu

Hal-hal diatas adalah uraian seorang guide yang menemani saya saat kali pertama mengunjungi lawang sewu pada pertengahan juli 2012. Guide seharga 30 ribu rupiah yang mendampingi saya dan tiga orang teman. Yah, kini lawang sewu menjadi destiny wisata alternatif kota Semarang. Disana anda harus siap merogoh kocek 10 ribu per kepala untuk bisa sekedar menikamati mesin waktu dan merasakan atmosfer era kolonial di negeri ini.

Sedikit banyak yang saya sesalkan saat pertama bertandang ke lawang sewu. Kini lawang sewu telah menjadi situs sejarah yang komersil. Bukan nilai uang 10 ribu yang disayangkan. Tak apalah untuk pemasukan dan kas perawatan gedung historis tersebut. Tapi cara mereka, para tour guide, mengais rejeki yang, __boleh dikatakan__, tak pantas. Di pintu masuk gedung utama mereka memasang harga tiap kepala menurut segmen usia dan profesi. Di sana tertera: anak-anak= 3 ribu, pelajar= 5 ribu, dan dewasa= 10rb. Sangat rancu, karena saya yang masih berstatus mahasiswa harus merogoh kocek 10 rb. Saat saya katakan bahwa saya dkk pelajar, kasir tour guide tersebut membantahnya bahwa itu hanya dikhususkan bagi pelajar sekolah dasar alias SD. Lalu apa gunanya pengkriterian tarif tersebut bila seorang anak SMP pun (dalam kasus saya) digolongkan dewasa. Dan bila seorang anak SD umur 6 tahun tidak masuk kriteria anak-anak.

Yang lebih menyesakkan, kami dipaksa untuk memakai tenaga tour guide yang keberadaannya tidak kami inginkan. Si kasir pun kembali membantah bila keberadaan tour guide wajib bila ingin menjelajahi lawang sewu. Lalu kenapa kami harus membayar si tour guide seharga 30 ribu?? Harga yang sangat mahal bagi mahasiswa kere seperti saya. Seharusnya guide tersebut gratis, bila memang dia wajib ada mendampingi para wisatawan. Kecuali jika guide tersebut sunah, atau tidak harus mendampingi para pelancong seperti saya.

Total 70 ribu yang kami habiskan untuk menikmati lawang sewu. Itu pun terasa tidak lengkap karena kami hanya menikmati gedung B dan C atau perpustakaan saja. Karena si tour guide melarang kami untuk masuk ke gedung utama yang konon memiliki arsitektur yang sangat memikat. Alasannya pun sangat lucu, karena kami bukanlah mahasiswa jurusan arsitektur atau teknik sipil yang sedang meneliti atau menggarap tugas akhir. Dan tempat yang diidam-idamkan oleh para pelesir lawang sewu, ruang bawah tanah, pun tidak bisa kami nikmati. Ruang yang dulu sebagai tandon air hujan yang berfungsi sebagai pendingin alami ruangan, konon punya cerita mistis tersendiri. Dan banyak yang percaya bahwa ruang yang terletak di bawah gedung B ini, menjadi sarang para lelembut dunia lain. Alasannya juga sangat klasik, kami berempat kehabisan duit untuk sekedar membayar 10 ribu per kepala untuk bisa menjelajahi ruang bawah tanah ini.

Sudah seratus tahun lebih usia lawang sewu. Kini salah satu cagar budaya kota Semarang itu terjangkit komersialisasi. Berada di tengah kota diantara beton-beton kokoh gedung simbol kapitalis, lawang sewu seolah kembali menjelma sesuai dengan founding gedung ini, kolonial Belanda yang rakus. Ketika sebuah situs sejarah telah dikomersilkan...
Read More......

Soeharto: Ijeh Penak Jamanku

|


Ada yang menarik dari angkutan kota alias angkot berplat nomor H 1045 AA yang biasa beroperasi di sekitar terminal Terboyo - Genuk di kota Semarang ini. Di kaca belakangnya terpampang mantan penguasa rezim orde baru, Soeharto, dengan senyumnya yang khas. Dengan melambaikan tangan the smiling general, begitu media barat menjuluki Soeharto, seolah bertutur bangga: "isih penak jamanku" (masih enak jamanku).

Angkot bercat merah ini mungkin mewakili curhat kebanyakan wong cilik di negeri ini. Atau mungkin sebuah sindiran untuk pemerintahan kini yang tak becus mengakomodasi aspirasi kebanyakan warganya. Meskipun menawarkan kebebasan dengan kedok demokrasi (yang tentu tidak ada di era Soeharto), tapi pemerintahan kini tidaklah sekharismatik Soeharto. Kehidupan rakyat normal, stabilitas keamanan terjamin, propaganda pembangunan lancar (KB, posyandu, repelita, petrus), nilai tukar dollar stabil Rp2500-, rakyat kenyang dengan swasembada beras, dan tidak ada yang namanya ormas-ormas yang lebih bertaji daripada aparat berwenang (macam FPI, dkk). Setidaknya itu yang diungkapkan oleh kaskuser di forum debate club, orba atau reformasi.

Hal-hal yang tentu dirindukan oleh rakyat kecil yang sulit didapat di pemerintahan reformasi kini.  Tapi, hal diatas hanyalah pandangan orang awam. Sejatinya hal-hal diatas dibangun dengan fondasi renta yang akibatnya diwariskan di masa kini. Kekayaan sumber daya alam kita yang telah dikavling oleh raksasa kapitalis macam freeport, newmont, chevron, dll, sesuatu yang sangat haram oleh orde lama besutan proklamator Soekarno. Atau pembangunan dengan basis dana utang luar negeri dan IMF.

Teman saya yang seorang aktivis pernah berkata, sekejam-kejamnya Hitler yang membantai jutaan yahudi, masih lebih kejam pemerintahan kita yang menjual dan melacurkan kekayaan sumber daya alam negeri ini ke pihak asing. Hitler pun tidak pernah menjual atau menjajah bangsanya sendiri. Dan founding father invasi asing di negeri ini adalah Soeharto. Sekaligus sebagai rezim penancap budaya korupsi di berbagai birokrasi di negeri ini.

Tapi bagaimanapun selama rakyat kecil belum kenyang selama itu pula mereka akan terus berujar, "isih penak jaman Soeharto". Sama seperti gurauan nostalgia sopir angkot tersebut.

isih penak jamanku

Read More......